Pernah kau bersyukur hanya
karena kau memiliki kedua kaki untuk berjalan?
Pernahkah bersyukur karena kau
memiliki kedua mata untuk melihat? tangan untuk meraba, telinga untuk
mendengar, dan hati untuk merasakan.
Pernahkah kau bersyukur karena kau
memiliki organ-organ yang bekerja dengan normal? Saraf-saraf yang menghantar
impuls sehingga kau dapat menggerakkan kedua tangan dan kakimu?
Otot-otot yang kuat sehingga
kau bisa mengangkat kepalamu? seluruh sel-sel yang menyusun tubuhmu sehingga
kau bisa merasakan seluruh organmu bekerja dengan sinergis?
Kadang kala, kita lupa mensyukuri hal-hal kecil yang kita punya. Hanya saja
karena kita bisa melakukan segalanya dengan sempurna. Sedang tak pernah
terpikir, bahwa ada orang yang sedang terkulai lemas di kamar-kamar rumah sakit
karena tubuhnya tak bersahabat lagi..
Kita pernah dekat
Meski kini tak sedekat dulu lagi
Kita pernah bersama
Meski kini ada jarak yang memisahkan
Kita pernah tertawa di sini
Meski kini kau telah tertawa di sana
Kita pernah terluka
Dan kita pernah saling menguatkan
Kita pernah berjalan bersama
Meski kini kita telah berlari masing-masing
Kita pernah punya cerita
Meski kini cerita kita sudah berbeda
Kita pernah hidup di tempat yang sama
Meski kini aku telah di sini dan kau ada di sana
Kita pernah bermimpi bersama
Meski kini jalan kita tak lagi sama
Kita pernah bermain
Meski kini kau sibuk bergulat dengan deret angkamu
Dan aku terlena dengan tumpukan hafalanku
Kita pernah bernyanyi
Meski kini aku telah sibuk dengan tuts pianoku
Dan kau sibuk dengan dawai gitarmu
Kita pernah ingat
Meski kini, aku pura-pura lupa dan kau pun demikian
Kita pernah melakukan segalanya
Dan kita pernah melupakan segalanya
Namun kita tidak akan pernah mengatakan bahwa kita “pernah bersahabat”
Karena kemarin, kini, esok, ataupun hari setelah esok,
semuanya akan tetap sama....
Tidak ada yang bisa membantah bahwa setiap orang punya cara sendiri menikmati tiap detik hidupnya. Merencanakan hal-hal yang diluar kuasanya, merasakan kepedihan setiap kali realitas mulai menertawakannya. Menikmati kehebatan inderanya, kepekaan bakatnya, bahwa ia penting dan berarti. Hampir saja aku melupakan bagaimana hal-hal seperti itu terjadi. Menikmati cahaya lilin yang aku pegangi, tapi hampir-hampir tidak tahu artinya bahagia dan puas. Lupa untuk menjadi manusia yang hidup tidak hanya dari kata makan, tidur dan bernafas. Sebenarnya mataku terbuka, tetapi bukan ku pakai untuk mengamati tetapi mengawasi. Tangan ku masih kuat tetapi terlalu cepat ku kepalkan. Aku tidak menikmatinya, benar-benar berujung pada kondisi semu dan tidak seru. Apakah itu berarti menghapus ego sudah cukup? Membiarkan detik mengganti wajahnya kemarin dengan rasa penuh hasrat akan makna menghargai kenangan? Bukan malah melewatkannya dengan alasan yang terlalu ilmiah? Saat kita menyaksikan pertunjukkan music bersama di antara bangku penonton, ketika kalian memilih duduk di bangku depan dan merasa menjadi bagian darinya. Mengamati tiap –tiap adegan dan sesekali mengikuti ekspresi pemain pertunjukkan. Sedang di waktu yang sama, aku berada di bangku terakhir di sudut kiri dan mengetahui alur cerita tapi sulit menggambarkannya sedetail mungkin. Karena aku sama sekali buta untuk mampu mengukur seberapa lebar senyuman sang ayah dalam cerita pertunjukkan tersebut atau seberapa banyak kostum yang digunakan tokoh utamanya kemarin. Lalu seperti mukjizat, aku menemukan pesan itu tadi siang. Belum waktunya untuk menyesali -katanya, ada waktu saat ini yang menanti untuk ditemui. Aku mendengarkan- sekali mengerti , maka aku harus berhenti dan menjejaki kaki. Karena sampai besog pagi, lilin itu harus tetap menerangi tapi aku tidak layak untuk terus menutup diri hanya karena- suara hati, tanpa melalui dan memasuki garis itu sendiri. Aku harus mampu jika tidak ingin melewatkan nikmat menjadi manusia. Setuju! Tak perlu menjadi pemain dalam pertunjukkan untuk bisa merasakan terangnya lampu sorot, atau sekedar mendengar riuh dan decak kagum penonton. Tidak perlu! akhirnya aku percaya itu. Kini,
Kau pasti sepakat denganku, jika ku bilang bahwa mama adalah seseorang yang akan selalu kau cintai melebihi siapapun di dunia ini, selain Tuhan tentunya.
Yah,itu pendapatku saja. Mungkin karena aku sangat mencintai mama. Tidak bisa kubayangkan bagaimana jadinya aku tanpa mama. Kau pasti tahu rasanya, karena aku yakin bahwa kau pun punya mama, sama sepertiku. Setidaknya, keberadaanmu di dunia ini tentu saja karena wanita itu.
Memiliki mama adalah sebuah nikmat terbesar yang kusyukuri. Bukan hanya karena dialah yang telah melahirkanku sehingga aku ada di dunia saat ini. Bukan hanya karena dia adalah orang yang berperan besar dalam kehidupanku. Tetapi lebih dari semua itu, aku bersyukur karena keberadaannya. Aku bersyukur pada Tuhan karena dia ada untukku. Aku bersyukur karena aku bisa melihatnya, merasakan cinta dan kasih sayangnya dan aku bersyukur karena dia adalah mamaku.
Tanpa mama, mana mungkin aku tahu tentang setia. Mama mengajariku tentang apa itu sabar. Tentang bagaimana menjadi kuat bahkan saat terlemah sekalipun. Tanpa mama, bagaimana aku tahu tentang ikhlas. Saat aku gagal dan kecewa, saat aku jatuh dan putus asa, saat aku nyaris menyerah. Mama ada di sana, membantuku tuk bertahan. Tanpa mama, bagaimana aku tahu rasanya menjadi berharga. Saat aku sakit dan menangis, mama lah yang akan selalu setia di sampingku. Mama ada di sana, dan selalu mengkhawatirkanku.
Mama yang akan selalu tersenyum saat aku pulang ke rumah. Mama yang selalu terlihat tegar dihadapanku, meski aku tahu ia rapuh. Mama yang selalu terlihat kuat, meski aku tahu ia sakit. Mama yang selalu berusaha memenuhi segala hajat dan kebutuhanku, meski aku tahu itu berat. Mama yang memberiku ruang untuk berdiri. Mama yang sudah mengorbankan seluruh hidupnya untukku.
Mama bukanlah malaikatku. Bukan juga peri pelindungku. Tapi lebih dari itu, mama adalah kekuatanku. Yah..dia adalah cintaku. Dialah mamaku.
Mencintai mama tentunya tidak seperti mencintai Tuhan. Karena hakikinya, cinta itu berasal dari pemilik hati itu sendiri. Besarnya rasa cinta itu seharusnya tidak sama. Maka tak semestinya cinta kepada mama melebihi cinta kita kepada Tuhan. Karena bagaimana pun, Tuhanlah pemiliknya. Dialah Maha pembolak balik hati. Dan Dialah yang berhak kita cintai, melebihi apa dan siapapun di dunia ini.
Dan beningmu
Basahi tanah Tuhan
Mengalun dalam syair sore yang merekah
Jatuh perlahan lewat tetes-tetes mungil yang kemilau
Merembes di padang gersang,
Pada daun dan rumput hijau yang liar
Terpelanting di antara kelopak-kelopak merah
Senandungmu keras, menggetirkan jiwa yang gulana
Namun denting irama mu syahdu,
Dalam nikmat yang Kuasa..
Mungkin setahun bukan waktu yg cukup lama bagiku untuk mengenalnya, tapi setahun telah cukup membuatku terasa begitu kehilangan. Yah, hanya setahun..hanya setahun kurasakan kebersamaan itu dengannya. Tak percaya, kalau akan sesingkat ini.
Tahukah kau, bagaimana rasanya hari itu? hari dimana aku kehilangan dia untuk selama-lamanya..
Tak usah kujelaskan, karena aku tak ingin mengenang kembali rasa sakit itu..kau akan mengerti, sampai kau merasakannya sendiri dan jika kau sudah merasakannya, maka mungkin aku dan kau sedang merasakan hal yg serupa.
“Kehilangan”..sungguh, aku merasa betul-betul kehilangan sosok itu..
Dia..dia yg kukenal di hari itu..dia yg senyumannya begitu hangat dan mendamaikan, kini telah tiada..
Dia adalah kakak yg setia membimbingku, guru yg mau meluangkan waktunya untuk mengajar dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku, teman yg mau membagi ceritanya, rekan yang setia, dan saudara yang menyenangkan.
Sulit untuk percaya, bahwa di usianya yg sedini itu, dia telah pergi ke tempat yg begitu jauh..melepaskan mimpi, harapan, dan semangat yang ia punya.
Terus terang, butuh waktu yg sangat lama untuk berhenti memikirkan itu semua. Karena semakin aku berpikir,maka semakin sulit untuk menemukan jawabannya. Yang kuyakini hingga detik ini bahwa waktu dan takdirlah yang telah membawanya pergi, kembali ke pelukan Tuhan. Aku percaya, bahwa Tuhan telah menyiapkan tempat terbaik untuknya. Tempat istirahat kekal dan tujuan akhir yang abadi. Aku percaya, bahwa kematian adalah kereta terakhir yg mengantar jiwa-jiwa suci ke hadapan Tuhan-Nya. Yang kan membawa siapa saja melihat keabadian itu. Kita hanya perlu bersabar, menunggu giliran itu sampai kepada kita.
Izinkan Aku menangis, Tuhan
Tuhan,bukan aku menangisi kehendak-Mu
Bukan karena aku marah atau kecewa kepada-Mu
Bukan Tuhan, bukan karena itu
Aku hanya sedang sedih
Kau tahu semua itu Tuhan
Lebih dari yang mereka tahu,
Maka dari itu,biarkanlah aku menangis untuknya
Ijinkan aku Tuhan
sebab aku tak sanggup menahan sesak di dadaku
rasa sakit karena kehilangan
kehilangan seseorang,
yang karena-Mu
aku menyayanginya
Tuhan, kumohon,
Jangan marah atau benci kepadaku
Karena aku sedang menangisi kepergiannya
Yang karena-Mu ia datang, dan oleh-Mu pun dia pergi
Aku hanya sedang sedih Tuhan, sangat sedih
Hingga air matapun bahkan tak sanggup menghapusnya
Bukan Tuhan, bukan karena aku tak mengikhlaskannya
Sebab dia milik-Mu
Dan aku tak berhak atas apapun yang telah KAU tetapkan
Aku hanya sedang sedih Tuhan
Biarkanlah aku mengenangnya dalam tangisku
Karena tak ada yang bisa membuatnya kembali
Tak satu pun itu
Tuhan, aku tahu semua akan pergi pada waktunya
Bahkan dalam ketidaktahuanku, Kaulah yang mengatahui segalanya