Seperti kitab tebal yang kau buka, aku terselip didalamnya..
Di antara kata dan kalimat, kabur tak terbaca..
Tampilkan postingan dengan label Smudama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Smudama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

FISIKA

Pagi ini,
setumpuk rumus menyapu otak
Deretan angka-angka
Menyilaukan mata       
Dan grafik-grafik memusingkan kepala
                                     Di bangku kedua, baris kedua
                                     Dan deretan kedua
                                     Aku duduk melipat tangan
                                     Memandang papan putih
                                     Dengan hiasan hitam yang tak kupahami
Mata menyayup
Mulut menguap
Entah mengapa, pikiran tertutup
Hingga kantuk pun meronggot tubuh
                                     Bingung...bingung...bingung..
                                     Mata tertutup sempurna
                                     Mimpi menghilangkan cita
                                     Dalam harap yang terpatri


Ruang fisika, 14/11/2007


Minggu, 13 Februari 2011

HUJAN LAGI



 
Hujan dan dingin
Dan aku merindukanmu
Dan membayangkan saat itu
Saat putih dan kabut menjadi satu

Hujan lagi
Tadi malam dan pagi ini
Dan mungkin besok atau hari setelah besok
Dan aku mengenangmu
Dalam kitab kenanganku

Hujan..
Lagi-lagi hujan turun
Tapi aku takkan marah dan mengeluh pada Tuhan
Sambil menggerutu tak suka
Ataupun mengoceh tak karuan
Karena hujan ada di sini
Bersamaku, bersama rasa ini

Hujan dan angin
Membuatku beku dalam rindu
Dan memikirkanmu lagi
Mengingat kau lagi
wahai kenangan putih abu-abuku

Hujan..hujan..hujan..dan hujan..
Hujan lagi..
Dan aku masih terpaku di sini
Menatap jalan-jalan basah
Dan mencium aroma tanah
Dan memikirkanmu lagi..lagi dan lagi

Hujan..
Hujan lagi..
Lagi-lagi hujan..
Hujan turun lagi..
Dan lagi-lagi aku merindukanmu..

(Januari 2011)
Untuk teman2 putih abu2ku..

Jumat, 02 April 2010

PUTIH ABU-ABU

and the story begin...




















               putih abu-abu, it's not just colours






there are moment


















                                                                 and we're laughing...


















then...we're go...


















but the story, always in our hearts...;)











_forever_

Senin, 29 Maret 2010

S.M.U.D.A.M.A in M.E.M.O.R.Y



Skenario pun dimulai, di tempat sederhana, namun penuh makna. SMUDAMA, kampus adat tanpa madat. Tempat petualang penuh misteri, membentangkan tradisi dalam kenaifan yang memudar. Memberi harga akan tiap tapak. SMUDAMA, it's not just a story. Berjuta cerita, beragam makna, memadu dalam bahagia. Tak terangkum dalam setumpuk buku, sekeping CD, atau sebuah album mini besampul hati.
SMUDAMA, is not only about 'tekkel' or 'calla'. Belajar untuk ikhlas dan berbagi untuk orang lain. Merelakan, bukan sakit hati.
SMUDAMA, never ending story. Saat-saat ceria dalam kebersamaan, tangis bersama, duka bersama, dan untuk sakit yang menjadi derita bersama. Mengajarkan tentang makna kebersamaan, dalam suka maupun duka. Di sana tumbuh cinta, kisah romansa anak muda. Di sana tercipta kasih, persahabatan yang tak terlupakan. Merangkai cerita panjang tak terselesaikan.
SMUDAMA 100% jenius. Tempat kita menggantungkan harapan masa muda. Mengukir mimpi-mimpi kita tuk seberkas cahaya terang. Menemukan makna kegagalan untuk menapaki gerbang kesuksesan. Tak peduli dengan segala hambatan, sebab luka dan sakit itu telah kita rasakan. Rendah hati, bukan sombong. Pantang menoleh kebelakang, sebab masa lalu adalah kenangan dan masa depan adalah harapan.
SMUDAMA, simple is cool simple is fun. hidup bersahaja dalam kesederhanaan. Menyelami pagelaran kehidupan yang sesungguhnya. Dalam tarian dan nyanyian bahagia.
SMUDAMA, fly to the sky together. Sang kepompong telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. Siap tuk mengepakkan sayapnya, menuju angkasa yang luas. Kecil,mungil, dan penuh pesona. Berani menatap mentari dan siap menantang dunia.
SMUDAMA, do re mi fa sol la si do. Kami bangga, tlah menjadi bagian dari harmoni nada cinta dalam larik kisah klasik ini.  

SMUDAMAku, SMUDAMAmu, SMUDAMAta' tonji.....

Kamis, 25 Maret 2010

RUMAH KEDUA


Saya terdiam, menatap ke sekeliling sudut tempat saya berada. Menyadari bahwa kini saya telah jauh dari sebuah tempat yang saya namakan sebagai “rumah kedua”. Sebuah tempat yang sekiranya telah melambuhkan saya pada sebuah kedewasaan, kemandirian, dan tentu saja tanggungjawab. Sebuah tempat yang mengenalkan saya pada berbagai macam warna, rupa, karakter, ataupun bahasa. Membuat saya mengerti akan berharganya setiap waktu yang saya punya, hingga saya lupa bahwa 3 tahun adalah waktu yang terlampau singkat. Di tempat itu, sebuah tempat yang saya istilahkan sebagai rumah kedua yang apik, lengkap dengan segala fasilitas alam yang menyenangkan. Rumah yang pintunya selalu terbuka, menyamakan setiap perbedaan tanpa menghilangkan perbedaan itu sendiri. Seperti ketika ia membuka pintunya untuk kami, 91 orang terpilih. Entahlah, mungkin karena kebetulan semata, jodoh, takdir, ataupun sejenisnya, saya pun tak tahu. Di kediaman itulah, saya belajar menerima berbagai macam hal, bahkan hal yang tak bisa saya terima sekalipun. Saya mengenal teman-teman baru, sebuah kelurga besar yang mengagumkan. Seperti rumah pada umumnya, di dalamnya ada ayah, ibu, tante, nenek, anak, cucu, dll. Mungkin terdengar lucu, seolah membuat fantasi dalam suatu kehidupan lain. Namun itulah yang akan terkenang bahkan ketika kita betul-betul akan mengalami kehidupan nyata yang sesungguhnya. Seperti kata orang bijak “hidup itu bagaikan roda yang selalu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah”. Begitupun dengan kehidupan yang kita rancang. Pada saatnya, ketika suatu masa, ia pun akan berakhir. Mengenang semua hal yang ada ataupun terjadi di tempat itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya, khususnya teman-teman yang selalu setia menemani saya selama kurang lebih 3 tahun. Mengenal kalian adalah sebuah keajaiban, sebuah misteri yang terlampau indah dipecahkan. Walaupun kita telah dipisahkan oleh ruang dan waktu, ingatlah bahwa kita pernah hidup dalam sebuah dinding yang sama. Bahkan saat kalian ataupun saya sadar bahwa kini kita tak lagi bersama dalam sebuah tempat yang saya sebut sebagai “rumah kedua”.