Seperti kitab tebal yang kau buka, aku terselip didalamnya..
Di antara kata dan kalimat, kabur tak terbaca..
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Februari 2011

C.I.N.T.A itu bernama M.A.M.A

             Kau pasti sepakat denganku, jika ku bilang bahwa mama adalah seseorang yang akan selalu kau cintai melebihi siapapun di dunia ini, selain Tuhan tentunya.
Yah,itu pendapatku saja. Mungkin karena aku sangat mencintai mama. Tidak bisa kubayangkan bagaimana jadinya aku tanpa mama. Kau pasti tahu rasanya, karena aku yakin bahwa kau pun punya mama, sama sepertiku. Setidaknya, keberadaanmu di dunia ini tentu saja karena wanita itu.
            Memiliki mama adalah sebuah nikmat terbesar yang kusyukuri. Bukan hanya karena dialah yang telah melahirkanku sehingga aku ada di dunia saat ini. Bukan hanya karena dia adalah orang yang berperan besar dalam kehidupanku. Tetapi lebih dari semua itu, aku bersyukur karena keberadaannya. Aku bersyukur pada Tuhan karena dia ada untukku. Aku bersyukur karena aku bisa melihatnya, merasakan cinta dan kasih sayangnya dan aku bersyukur karena dia adalah mamaku.
           Tanpa mama, mana mungkin aku tahu tentang setia. Mama mengajariku tentang apa itu sabar. Tentang bagaimana menjadi kuat bahkan saat terlemah sekalipun. Tanpa mama, bagaimana aku tahu tentang ikhlas. Saat aku gagal dan kecewa, saat aku jatuh dan putus asa, saat aku nyaris menyerah. Mama ada di sana, membantuku tuk bertahan. Tanpa mama, bagaimana aku tahu rasanya menjadi berharga. Saat aku sakit dan menangis, mama lah yang akan selalu setia di sampingku. Mama ada di sana, dan selalu mengkhawatirkanku.
          Mama yang akan selalu tersenyum saat aku pulang ke rumah. Mama yang selalu terlihat tegar dihadapanku, meski aku tahu ia rapuh. Mama yang selalu terlihat kuat, meski aku tahu ia sakit. Mama yang selalu berusaha memenuhi segala hajat dan kebutuhanku, meski aku tahu itu berat. Mama yang memberiku ruang untuk berdiri. Mama yang sudah mengorbankan seluruh hidupnya untukku.
           Mama bukanlah malaikatku. Bukan juga peri pelindungku. Tapi lebih dari itu, mama adalah kekuatanku. Yah..dia adalah cintaku. Dialah mamaku.
           Mencintai mama tentunya tidak seperti mencintai Tuhan. Karena hakikinya, cinta itu berasal dari pemilik hati itu sendiri. Besarnya rasa cinta itu seharusnya tidak sama. Maka tak semestinya cinta kepada mama melebihi cinta kita kepada Tuhan. Karena bagaimana pun, Tuhanlah pemiliknya. Dialah Maha pembolak balik hati. Dan Dialah yang berhak kita cintai, melebihi apa dan siapapun di dunia ini.


Sabtu, 12 Februari 2011

Kembali mengingat dia…dia yg telah pergi..


                 Mungkin setahun bukan waktu yg cukup lama bagiku untuk mengenalnya, tapi setahun telah cukup membuatku terasa begitu kehilangan. Yah, hanya setahun..hanya setahun kurasakan kebersamaan itu dengannya. Tak percaya, kalau akan sesingkat ini. 
   Tahukah kau, bagaimana rasanya hari itu? hari dimana aku kehilangan dia untuk selama-lamanya..
Tak usah kujelaskan, karena aku tak ingin mengenang kembali rasa sakit itu..kau akan mengerti, sampai kau merasakannya sendiri dan jika kau sudah merasakannya, maka mungkin aku dan kau sedang merasakan hal yg serupa.
 “Kehilangan”..sungguh, aku merasa betul-betul kehilangan sosok itu..
Dia..dia yg kukenal di hari itu..dia yg senyumannya begitu hangat dan mendamaikan, kini telah tiada..
Dia adalah kakak yg setia membimbingku, guru yg mau meluangkan waktunya untuk mengajar dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku, teman yg mau membagi ceritanya, rekan yang setia, dan saudara yang menyenangkan.
           Sulit untuk percaya, bahwa di usianya yg sedini itu, dia telah pergi ke tempat yg begitu jauh..melepaskan mimpi, harapan, dan semangat yang ia punya. 
Terus terang, butuh waktu yg sangat lama untuk berhenti memikirkan itu semua. Karena semakin aku berpikir,maka semakin sulit untuk menemukan jawabannya. Yang kuyakini hingga detik ini bahwa waktu dan takdirlah yang telah membawanya pergi, kembali ke pelukan Tuhan. Aku percaya, bahwa Tuhan telah menyiapkan tempat terbaik untuknya. Tempat istirahat kekal dan tujuan akhir yang abadi. Aku percaya, bahwa kematian adalah kereta terakhir yg mengantar jiwa-jiwa suci ke hadapan Tuhan-Nya. Yang kan membawa siapa saja melihat keabadian itu. Kita hanya perlu bersabar, menunggu giliran itu sampai kepada kita.



Izinkan Aku menangis, Tuhan

Tuhan,bukan aku menangisi kehendak-Mu
Bukan karena aku marah atau kecewa kepada-Mu
Bukan Tuhan, bukan karena itu
            Aku  hanya sedang sedih
            Kau tahu semua itu Tuhan
Lebih dari yang mereka tahu,
Maka dari itu,biarkanlah aku menangis untuknya
Ijinkan aku Tuhan
sebab aku tak sanggup menahan sesak di dadaku
rasa sakit karena kehilangan
kehilangan seseorang,
yang karena-Mu
aku menyayanginya
            Tuhan, kumohon,
            Jangan marah atau benci kepadaku
            Karena aku sedang menangisi kepergiannya
            Yang karena-Mu ia datang, dan oleh-Mu pun dia pergi
Aku hanya sedang sedih Tuhan, sangat sedih
Hingga air matapun bahkan tak sanggup menghapusnya
Bukan Tuhan, bukan karena aku tak mengikhlaskannya
Sebab dia milik-Mu
Dan aku tak berhak atas apapun yang telah KAU tetapkan
            Aku hanya sedang sedih Tuhan
            Biarkanlah aku mengenangnya dalam tangisku
            Karena tak ada yang bisa membuatnya kembali
            Tak satu pun itu
Tuhan, aku tahu semua akan pergi pada waktunya
Bahkan dalam ketidaktahuanku, Kaulah yang mengatahui segalanya
Tidak akan ada satupun yang tahu
Karena rahasia itu hanya milik-Mu
            Jaga ia Tuhan
            Jagalah dia untukku...

Makassar, 7 Oktober 2010
(4 my beloved sista: Dian Zabrinah)


               

Selasa, 23 November 2010

PRESIDEN

Presiden..mungkin itulah kata yang saat ini sedang terbersit di dalam otak saya. bukan sebuah cita-cita, ataupun salah satu dari puluhan mimpi-mimpi yang ingin saya raih. Tepatnya, kata itu hanya menjadi sebuah angan-angan yang sudah menyelinap dalam benak saya beberapa tahun yang lalu. Tidak begitu lama, tapi cukup lama mengisi kepala saya dan membuat saya sering memikirkannya. Angan-angan, bagi saya bukanlah sebuah ambisi. Tercapai atau tidaknya bukanlah hal yang penting, sebab ini hanya bagian kecil dari banyak hal yang menghiasi mimpi saya. Bagi saya, mimpi adalah keinginan. Sesuatu yang mesti diwujudkan. Berhasil atau tidaknya adalah hasil dari sebuah proses yang setidaknya telah membuat saya menjadi sosok yang mau berusaha dan berjuang untuk memperolehnya. Sedangkan angan-angan bagi saya hanya bagian dari mimpi itu, dan bukan perwujudan dari mimpi itu. Mungkin terdengar aneh dan sangat membingungkan, dan saya pun sebenarnya tidak mengerti dengan semua itu.
Presiden, sejatinya adalah seorang pemimpin. Pemimpin hakekatnya adalah seorang pejuang. Berkorban dengan kebijaksanaan, berkorban dengan mengabaikan perasaan tapi bukan berarti tak berperasaan. Pemimpin sering kali dihadapkan pada berbagai pilihan sulit, sering dikacaukan dengan banyak hambatan, dan sering dihantui justru dengan kekuasaannya sendiri. Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, apalagi menjadi pemimpin negara. Sebab, memimpin orang lain berarti mampu mengarahkan mereka menjadi lebih baik. Berusaha melakukan yang terbaik untuk kepentingan orang lain dengan mengabaikan kepentingan pribadi. Presiden adalah bagian dari wajah pemimpin. Jabatan dan kekuasaan yang menjadi rebutan banyak orang, yang kadang kala menyakiti mereka sendiri. Menjadi presiden merupakan sebuah konsekuensi besar bagi ia atau mereka yang memperoleh kehormatan tersebut. Seorang presiden tidak hanya harus siap untuk diagung-agungkan, tetapi juga harus siap untuk ditentang dan dicaci. Maka ia atau mereka yang beruntung adalah bagian dari sejarah yang namanya akan tercatat dan dikenang hingga keberadaan negeri ini hilang.

Pangkep, 23 Januari 2010
dina

Senin, 22 November 2010

Assalamu alaikum…

Hmm…hari ini aku bertemu seorang nenek di kampus..Mungkin usianya sekitar 70 tahun..
Tubuhnya kurus dan badannya agak bungkuk..ia membawa sebuah karung besar yang berisi sampah2 plastik..aku melihatnya sedang memunguti beberapa botol plastic bekas yang tergeletak di jalanan, di sekitar koridor kampus..ia dengan sabar mengambil sampah2 itu dan memasukannya ke dalam karung.
Beberapa saat kemudian, aku melihat nenek itu menghampiri sebuah tempat sampah. Ia kemudian mulai mengais, mengambil sampah2 plastik yang ada di dalamnya.
Aku menatapnya dengan iba..”Sungguh kasihan nenek ini,”batinku.
Yah, bagaimana tidak..orang seusia dia harus bekerja sekeras itu, padahal ia sudah sangat renta. Seharusnya, nenek itu sedang asyik menikmati masa-masa tuanya di rumah, bersama anak dan cucunya. Menikmati hari-hari di usia senjanya, dan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang menyenangkan.
Tapi nenek itu, sungguh memilukan. Aku sangat kasihan melihanya. Ia harus membanting tulang untuk menghidupi dirinya dan mungkin juga keluarganya. Sungguh ironis..
Aku kembali menunduk. Sejenak merenung, mengingat kakek dan nenekku di rumah. Yah, mungkin mereka lebih beruntung dari pada nenek itu. Sekali lagi, aku bersyukur pada Tuhan, yang selalu mencukupkan rezeki-Nya kepada keluargaku.
The last, aku berharap agar aku dan kita semua bisa menjadi hamba yang senantiasa bersyukur atas segala kemurahan hati Tuhan...amin..^^

Minggu, 04 April 2010

My new L.I.F.E

Menapaki kampus merah Universitas Hasanuddin, ada sesuatu yang justru terasa asing bagi saya. Bukan karena saya belum pernah memasuki kampus ini sebelumnya, tapi justru karena sekarang saya telah menjadi bagian dari keluarga besar ini. Tak ada lagi seragam putih abu-abu yang biasa saya jumpai, teman-teman semasa SMA yang sudah bagaikan saudara, dan guru-guru yang telah akrab dalam pandangan saya. Suasananya begitu berbeda dan semuanya terasa lain. Kini, saya berada di antara ribuan orang yang tidak saya kenal. Saya bertemu dengan wajah-wajah baru hampir setiap hari dengan gaya dan penampilan yang tentu saja berbeda. Sesuatu yang tidak pernah saya temui sebelumnya di bangku SMA. Saya mulai melangkah, melewati koridor demi koridor tempat ini dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepala. Inikah dunia kampus? Inikah orang-orang di dalamnya? Beginikah rasanya menjadi mahasiswa? Dan sebuah pertanyaan besar dalam hati saya. Siapkah saya menjadi seoarang mahasiswa?
Awalnya saya merasa sangat canggung, namun lama kelamaan saya bisa menetralisir semua perasaan itu. Ya, sekarang saya telah berada di dunia yang berbeda. Saya bukan lagi seorang siswa, kini saya adalah seorang mahasiswa. Sebuah peningkatan level yang harus disikapi dengan penuh rasa tanggung jawab.
            Mahasiswa, sebuah gelar baru yang kini saya sandang. Sebuah tahapan yang mesti saya lalui sebagai proses akademis untuk meraih apa yang saya cita-citakan. Ibaratnya sebuah tangga, kita harus melalui tiap-tiap anak tangga itu untuk dapat mencapai puncaknya. Begitupun dengan apa yang saya alami. Setelah menyelesaikan tahun terakhir di SMA, saya mendaftarkan diri di berbagai perguruan tinggi, baik itu negeri maupun swasta. Hingga pada  akhirnya setelah melalui proses panjang yang melelahkan, saya dapat menjadi salah satu mahasiswa Jurusan Fisioterapi Universitas Hasanuddin. Sebuah hal besar yang mesti dan wajib saya syukuri, sebab tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Beribu-ribu orang bertarung di berbagai tes  masuk penerimaan mahasiswa baru yang diadakan oleh setiap perguruan tinggi di Indonesia, namun tidak semuanya bisa merasakan keberhasilan yang sama untuk dapat duduk di bangku perguruan tinggi dan bahkan merasakan indahnya menjadi seorang mahasiswa.
            Menjadi salah seorang mahasiswa fisioterapi sebenarnya bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya. Banyak hal yang sering membuat saya ragu dan kadang kala hal itu mampu mematahkan semangat yang selama sudah ini saya bangun. Namun, saya selalu berusaha memantapkan diri dan meyakinkan hati saya bahwa fisioterapi adalah pilihan yang terbaik untuk mengantarkan saya meraih sebuah impian di masa depan. Sebuah harapan untuk dapat membahagiakan kedua orangtua saya.
            Setelah melalui proses PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) dan BSS (Basic Study Skill), baik itu tingkat universitas maupun tingkat fakultas, akhirnya tibalah saya pada sebuah dunia baru, kehidupan baru dengan keluarga yang tentu saja baru. Saya mulai merasakan kebahagiaan tersendiri bisa berada di antara kaum-kaum intelek yang sangat haus akan ilmu pengetahuan. Saat itulah semangat saya bangkit untuk menatap masa depan yang lebih baik. Meskipun lahir di Pangkep, berdarah asli Pangkep, dan memiliki orangtua yang berasal dari Pangkep, sebuah daerah kecil di pelosok Indonesia Timur, namun semangat dan tekad saya untuk berprestasi tidak kalah besarnya dengan anak-anak lainnya yang mungkin lahir dan tumbuh di daerah perkotaan dengan segudang fasilitas lengkap dan mewah. Saya percaya bahwa ketika orang lain bisa, maka saya pun pasti bisa.  
    Menjalani kuliah pertama di Fakultas Kedokteran adalah hal yang cukup berat bagi saya pribadi. Saya harus berjumpa dan berinteraksi dengan orang-orang baru, bukan lagi orang yang biasa saya temui di bangku SMA. Sebenarnya ini mungkin bukanlah hal yang sulit bagi sebagian orang, namun berbeda halnya dengan saya. Saya menyadari bahwa saya bukanlah tipe orang yang gampang bergaul atau istilahnya supel. Kadang kala saya sangat kesulitan untuk berbicara atau sekedar bertegur sapa dengan orang yang baru saya kenal. Namun seiring berjalannya waktu, saya dapat mengatasi semua ini.
   Hari-hari pun berlalu, kehidupan dunia kampus yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya di kepala saya akhirnya tergambar sudah. Kini saya mulai memahami sedikit demi sedikit hal-hal yang terjadi di dalamnya, saya mulai belajar banyak hal hingga saya mencapai sebuah kesimpulan bahwa menjadi seorang mahasiswa adalah sesuatu yang tidaklah mudah namun sungguh menyenangkan. Walaupun terbilang baru, saya menyadari bahwa setiap peristiwa yang telah saya alami dan saya lalui adalah sebuah bagian dari proses pendewasaan diri yang akan membimbing saya menjalani hari-hari penuh cerita di kampus ini. Saya berusaha mengubah pola pikir saya, mencoba melihat segala hal dari sudut pandang yang berbeda. Menyadari bahwa menjadi mahasiswa berarti siap untuk berpikir terbuka, kritis, dan dewasa. Saya bukan lagi anak SMA yang mengenakan seragam putih abu-abu, kini saya adalah seorang mahasiswa yang dituntut untuk membawa perubahan, baik bagi diri saya pribadi maupun untuk bangsa dan negara tercinta.
           

Kisah seorang ayah dan putrinya

Kisah ini terjadi disuatu pagi yang cerah, yaa.. mungkin tidak begitu cerah untuk seorang ayah yang kebetulan memeriksa kamar putri nya...

Dia mendapati kamar itu sudah rapi, dengan selembar amplop bertuliskan untuk ayah diatas kasurnya.. perlahan dia mulai membuka surat itu...


--
Ayah tercinta,

Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal.
Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah.
Aku pergi bersama kekasihku, dia cowok yang baik, setelah bertemu dia.. Ayah juga pasti akan setuju meski dengan tatto2 dan piercing yang melekat ditubuhnya, juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya.

Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua (aku pikir jaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua).
Dia sangat baik terhadapku...
lebih lagi dia ayah dari anak di kandunganku saat ini.
Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan membesarkannya bersama.

Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan extacy yang sangat luas
Dia juga telah meyakinkanku bahwa marijuana itu tidak begitu buruk.
Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami.

Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh.

Aku tahu dia juga punya cewek lain tapi aku percaya dia akan setia padaku dengan cara yang berbeda.

Ayah.. jangan khawatirkan keadaanku.
Aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku.
Salam sayang untuk kalian semua.

Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.

----

Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, sang ayah membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu...


PS: Ayah, .. tidak ada satupun dari yang aku tulis diatas itu benar
Aku hanya ingin menunjukkan ada ribuan hal yg lebih mengerikan daripada nilai Raporku yg buruk.
Kalau ayah sudah menandatangani rapotku diatas meja,
panggil aku ya...Aku tidak kemana2 saat ini aku ada di....


tetangga sebelah.


NB: tulisan ini saya ambil dari facebook teman..

Selasa, 30 Maret 2010

HUJAN

Hujan…Mungkin aku tidak terlalu suka dengan kondisi itu..Yah, seperti saat ini..hujan telah mengurungku di kampus, menahan kepulanganku setelah bergelut selama seharian dengan pelajaran-pelajaran yang cukup menguras energi..
Sebenarnya, aku bukannya tidak suka dengan hujan…Aku hanya sedikit takut dengan tumpahan air langit itu. Aku takut mendengar suaranya yang begitu keras saat terpelanting di atas atap-atap rumah atau bangunan yang terbuat dari seng. Entah mengapa, suaranya terdengar begitu mengerikan di telingaku. Di tambah lagi suara kilat atau guntur yang biasanya terdengar saat hujan turun. Suaranya yg cempreng  tidak kalah keras menggelegar di angkasa. .Mengaung-aung, seolah berontak pada langit.  
Saat hujan turun, kadang kala aku mengingat mama di seberang sana. Atau suasana rumah tatkala hujan menari dengan lembut sebelum jatuh ke bumi. Biasanya, mama akan membuatkan kami gorengan pisang yang disuguhkan bersama teh panas seduhan mama. Sungguh aku merindukan suasana itu, suasana di mana aku bisa berkumpul dengan mama, papa, kakak, dan adikku. Aku sangat merindukan kebersamaan itu. Saat-saat dimana aku harus berebutan pisang dengan adik atau kakakku, bahkan juga ayahku. Saat-saat bertengkar dengan saudaraku karena hanya memperebutkan sepotong pisang terakhir yang menghiasai piring kami. Mmm, keluarga yang ANEH..hehehe..;)
Berbicara tentang hujan, mungkin akan mengingatkan kita pada sebuah lagu yang dibawakan oleh grup band utopia yang isinya kurang lebih menceritakan tentang HUJAN. Yah, tapi sebenarnya saya bukan mau membahas tentang ini, sekedar intermezzo saja.
Mmm, kembali ke masalah pokok..'HUJAN'...
Banyak hal tentang hujan yang tidak bisa saya jelaskan. Keindahannya saat turun, kehangatan yang ia ciptakan justru saat ia membawa udara dingin, kekuatannya yang mampu menumbangkan pohon-pohon besar, manfaatnya yang tiada tara seperti yang tercantum di dalam Al-Qur’an, ataupun hal lain tentangnya yang tidak mampu saya paparkan satu per satu.
Begitulah hujan..Kedatangannya sering tidak diharapkan, namun kepergianya justru sering kali membawa kenangan..hiks..hiks..;)


Jumat, 19 Maret 2010

NINETEEN

Yah, kadang-kadang ngiri juga liat remaja-remaja seusia saya yang bisa leluasa menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan ke mall, belanja, nonton, atau makan bareng. Mereka terlihat begitu santai dan menikmati hidupnya sebagai remaja berusia 18 atau 19 tahun. Yah, prinsipnya sih “masa muda” adalah masa yang indah. So, kita wajib kudu fardu untuk menikmatinya. Kapan lagi coba kita bisa melakukan segala hal? Tertawa sepuas mungkin? Menikmati masa-masa indah bersama teman-teman atau pacar yang sudah dianggap soulmet sejati. Nah, tapi bagi saya semua itu bukanlah sebuah standar untuk menikmati masa muda, yang kata orang sih masa-masa penuh kebebasan. Saya mungkin tidak termasuk golongan remaja di atas. Saya adalah tipe orang yang lebih banyak menghabiskan waktu di kampus dan tentunya di kamar. Biasanya saya disibukkan dengan rutinitas perkuliahan yang padat. Masuk jam 8 pagi n pulang sekitar jam 4 sore. Belum lagi kalau ada kegiatan lainnya setelah perkuliahan. Ditambah lagi tugas-tugas numpuk yang kadang-kadang kedatangannya tak terduga. Hmm, ternyata menjadi mahasiswa itu tidaklah mudah. Kita harus pinter-pinter ngatur waktu, supaya tidak ketinggalan dari yang lain.

Oke, next…menjalani rutinitas sebagai seorang mahasiswa membuat saya agak sedikit kekurangan waktu untuk bersantai, walaupun sebenarnya sih saya banyak membuang-buang waktu dengan kegiatan yang tidak jelas, seperti TIDUR. Hehe…yah, bersantai yang saya maksud di sini dalam artian jalan-jalan, hang out, atau apa pun bentuk “santai” yang didefenisikan oleh remaja seusia saya. Bukannya tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal seperti itu, masalahnya saya adalah tipe orang yang tidak terlalu suka dengan jalan-jalan, belanja, ngumpul-ngumpul bareng teman, nonton di bioskop, etc. Saya memang lebih suka di kamar, menyendiri, menyatu dengan ketenangan. Biasanya dengan begitu, saya bisa mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis. Hahaha…sungguh tragis. Tapi begitulah saya menikmati hidup sebagai remaja berusia 19 tahun..^^





 

Kamis, 18 Maret 2010

For my beloved dad...

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang
sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau
di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh
dari kedua orang tuanya.....

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon
untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata
Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah
yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu,
bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan
pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan
kecil......

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik
sepeda.

Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa
akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu
Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,

Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu,
menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu
putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta
boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas
: "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa
tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu
dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu
khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di
bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan
menasihatimu dengan lembut.

Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan
keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....

Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat
izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak
boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk
menjagamu?

Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang
sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk
ke kamar sambil membanting pintu...

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu
agar tidak marah adalah Mama....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan
matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu,
Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu,
atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling
cool sedunia.... :')

Papa sesekali menguping atau mengintip saat
kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa
melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa
untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di
ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut
- larut...

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut
malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang
di sangat ditakuti Papa akan segera datang?

"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi
meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu
untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan
Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu
saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa....

Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...

Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku
untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat
ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti
Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit
air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu
baik-baik ya sayang".

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat
untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang
semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah
Papa.

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar
anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta
boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah
: "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin
mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa
gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan
memberi tepuk tangan untukmu.

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas
melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan
telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang
ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan
izin..

Karena Papa tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan
posisinya nanti.

Dan akhirnya...

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan
bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa
pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia
itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia,
kemudian Papa berdoa....

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata:
"Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik....

Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah
menjadi wanita yang cantik....

Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu
bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....

Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat
untuk menjagamu dari bahaya....

Papa telah menyelesaikan tugasnya....

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...

Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...

Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak
menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia
ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu
yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

 

(Saya mendapat tulisan ini dari seorang teman yang sumbernya kebetulan tdk dituliskan...)