Seperti kitab tebal yang kau buka, aku terselip didalamnya..
Di antara kata dan kalimat, kabur tak terbaca..

Senin, 21 Februari 2011

C.I.N.T.A itu bernama M.A.M.A

             Kau pasti sepakat denganku, jika ku bilang bahwa mama adalah seseorang yang akan selalu kau cintai melebihi siapapun di dunia ini, selain Tuhan tentunya.
Yah,itu pendapatku saja. Mungkin karena aku sangat mencintai mama. Tidak bisa kubayangkan bagaimana jadinya aku tanpa mama. Kau pasti tahu rasanya, karena aku yakin bahwa kau pun punya mama, sama sepertiku. Setidaknya, keberadaanmu di dunia ini tentu saja karena wanita itu.
            Memiliki mama adalah sebuah nikmat terbesar yang kusyukuri. Bukan hanya karena dialah yang telah melahirkanku sehingga aku ada di dunia saat ini. Bukan hanya karena dia adalah orang yang berperan besar dalam kehidupanku. Tetapi lebih dari semua itu, aku bersyukur karena keberadaannya. Aku bersyukur pada Tuhan karena dia ada untukku. Aku bersyukur karena aku bisa melihatnya, merasakan cinta dan kasih sayangnya dan aku bersyukur karena dia adalah mamaku.
           Tanpa mama, mana mungkin aku tahu tentang setia. Mama mengajariku tentang apa itu sabar. Tentang bagaimana menjadi kuat bahkan saat terlemah sekalipun. Tanpa mama, bagaimana aku tahu tentang ikhlas. Saat aku gagal dan kecewa, saat aku jatuh dan putus asa, saat aku nyaris menyerah. Mama ada di sana, membantuku tuk bertahan. Tanpa mama, bagaimana aku tahu rasanya menjadi berharga. Saat aku sakit dan menangis, mama lah yang akan selalu setia di sampingku. Mama ada di sana, dan selalu mengkhawatirkanku.
          Mama yang akan selalu tersenyum saat aku pulang ke rumah. Mama yang selalu terlihat tegar dihadapanku, meski aku tahu ia rapuh. Mama yang selalu terlihat kuat, meski aku tahu ia sakit. Mama yang selalu berusaha memenuhi segala hajat dan kebutuhanku, meski aku tahu itu berat. Mama yang memberiku ruang untuk berdiri. Mama yang sudah mengorbankan seluruh hidupnya untukku.
           Mama bukanlah malaikatku. Bukan juga peri pelindungku. Tapi lebih dari itu, mama adalah kekuatanku. Yah..dia adalah cintaku. Dialah mamaku.
           Mencintai mama tentunya tidak seperti mencintai Tuhan. Karena hakikinya, cinta itu berasal dari pemilik hati itu sendiri. Besarnya rasa cinta itu seharusnya tidak sama. Maka tak semestinya cinta kepada mama melebihi cinta kita kepada Tuhan. Karena bagaimana pun, Tuhanlah pemiliknya. Dialah Maha pembolak balik hati. Dan Dialah yang berhak kita cintai, melebihi apa dan siapapun di dunia ini.


Minggu, 13 Februari 2011

HUJAN LAGI



 
Hujan dan dingin
Dan aku merindukanmu
Dan membayangkan saat itu
Saat putih dan kabut menjadi satu

Hujan lagi
Tadi malam dan pagi ini
Dan mungkin besok atau hari setelah besok
Dan aku mengenangmu
Dalam kitab kenanganku

Hujan..
Lagi-lagi hujan turun
Tapi aku takkan marah dan mengeluh pada Tuhan
Sambil menggerutu tak suka
Ataupun mengoceh tak karuan
Karena hujan ada di sini
Bersamaku, bersama rasa ini

Hujan dan angin
Membuatku beku dalam rindu
Dan memikirkanmu lagi
Mengingat kau lagi
“wahai kenangan putih abu-abuku”

Hujan..hujan..hujan..dan hujan..
Hujan lagi..
Dan aku masih terpaku di sini
Menatap jalan-jalan basah
Dan mencium aroma tanah
Dan memikirkanmu lagi..lagi dan lagi

Hujan..
Hujan lagi..
Lagi-lagi hujan..
Hujan turun lagi..
Dan lagi-lagi aku merindukanmu..

(Januari 2011)
Untuk teman2 putih abu2ku..

Sabtu, 12 Februari 2011

HUJAN


Dan beningmu
Basahi tanah Tuhan
Mengalun dalam syair sore yang merekah
Jatuh perlahan lewat tetes-tetes mungil yang kemilau
Merembes di padang gersang,
Pada daun dan rumput hijau yang liar
Terpelanting di antara kelopak-kelopak merah
Senandungmu keras, menggetirkan jiwa yang gulana
Namun denting irama mu syahdu,
Dalam nikmat yang Kuasa..



Kembali mengingat dia…dia yg telah pergi..


                 Mungkin setahun bukan waktu yg cukup lama bagiku untuk mengenalnya, tapi setahun telah cukup membuatku terasa begitu kehilangan. Yah, hanya setahun..hanya setahun kurasakan kebersamaan itu dengannya. Tak percaya, kalau akan sesingkat ini. 
   Tahukah kau, bagaimana rasanya hari itu? hari dimana aku kehilangan dia untuk selama-lamanya..
Tak usah kujelaskan, karena aku tak ingin mengenang kembali rasa sakit itu..kau akan mengerti, sampai kau merasakannya sendiri dan jika kau sudah merasakannya, maka mungkin aku dan kau sedang merasakan hal yg serupa.
 “Kehilangan”..sungguh, aku merasa betul-betul kehilangan sosok itu..
Dia..dia yg kukenal di hari itu..dia yg senyumannya begitu hangat dan mendamaikan, kini telah tiada..
Dia adalah kakak yg setia membimbingku, guru yg mau meluangkan waktunya untuk mengajar dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku, teman yg mau membagi ceritanya, rekan yang setia, dan saudara yang menyenangkan.
           Sulit untuk percaya, bahwa di usianya yg sedini itu, dia telah pergi ke tempat yg begitu jauh..melepaskan mimpi, harapan, dan semangat yang ia punya. 
Terus terang, butuh waktu yg sangat lama untuk berhenti memikirkan itu semua. Karena semakin aku berpikir,maka semakin sulit untuk menemukan jawabannya. Yang kuyakini hingga detik ini bahwa waktu dan takdirlah yang telah membawanya pergi, kembali ke pelukan Tuhan. Aku percaya, bahwa Tuhan telah menyiapkan tempat terbaik untuknya. Tempat istirahat kekal dan tujuan akhir yang abadi. Aku percaya, bahwa kematian adalah kereta terakhir yg mengantar jiwa-jiwa suci ke hadapan Tuhan-Nya. Yang kan membawa siapa saja melihat keabadian itu. Kita hanya perlu bersabar, menunggu giliran itu sampai kepada kita.



Izinkan Aku menangis, Tuhan

Tuhan,bukan aku menangisi kehendak-Mu
Bukan karena aku marah atau kecewa kepada-Mu
Bukan Tuhan, bukan karena itu
            Aku  hanya sedang sedih
            Kau tahu semua itu Tuhan
Lebih dari yang mereka tahu,
Maka dari itu,biarkanlah aku menangis untuknya
Ijinkan aku Tuhan
sebab aku tak sanggup menahan sesak di dadaku
rasa sakit karena kehilangan
kehilangan seseorang,
yang karena-Mu
aku menyayanginya
            Tuhan, kumohon,
            Jangan marah atau benci kepadaku
            Karena aku sedang menangisi kepergiannya
            Yang karena-Mu ia datang, dan oleh-Mu pun dia pergi
Aku hanya sedang sedih Tuhan, sangat sedih
Hingga air matapun bahkan tak sanggup menghapusnya
Bukan Tuhan, bukan karena aku tak mengikhlaskannya
Sebab dia milik-Mu
Dan aku tak berhak atas apapun yang telah KAU tetapkan
            Aku hanya sedang sedih Tuhan
            Biarkanlah aku mengenangnya dalam tangisku
            Karena tak ada yang bisa membuatnya kembali
            Tak satu pun itu
Tuhan, aku tahu semua akan pergi pada waktunya
Bahkan dalam ketidaktahuanku, Kaulah yang mengatahui segalanya
Tidak akan ada satupun yang tahu
Karena rahasia itu hanya milik-Mu
            Jaga ia Tuhan
            Jagalah dia untukku...

Makassar, 7 Oktober 2010
(4 my beloved sista: Dian Zabrinah)


               

Selasa, 08 Februari 2011

Catatan..

-->
Hai kawan! Bagaimana kabar kalian pagi ini, siang, sore, atau malam ini? aku harap kalian baik-baik saja di mana pun kalian berada..
Hmm…saat ini aku sedang teringat saudara2 kita di seberang sana. Yah, sahabat kita di Wasior, Mentawai, dan tentu saja Yokyakarta yang belakangan ini sedang ramai menghiasi layar-layar tv kita.
Kawan, kau tau apa yang membuatku bahagia dan bersyukur hingga sana ini?
Aku bahagia karena Tuhan masih mengizinkanku hidup. Aku bersyukur karena Tuhan masih memberiku tempat tinggal yang layak, tempat tidur yang nyaman, keluarga yang utuh, makanan dan minuman yang cukup, serta segala kebutuhan lainnya yang selalu terpenuhi. Tidak hanya itu, masih banyak nikmat-nikmat lain yang lebih besar dari itu, kawan. Yang jika aku sebutkan, itu pun tidak akan cukup untuk menggambarkan betapa mestinya kita bersyukur kepada Allah.
Kau tahu kawan, bukanlah sebuah tempat tidur yang empuk yang seharusnya menjadikan kita bahagia.  Karena tempat tidur adalah sesuatu yang kita beli, dan pada hakekatnya kebahagiaan itu sendiri tidak bisa kita beli. Lantas apa????
Mungkin itu yang akan kalian tanyakan padaku..Bagiku, bukan tempat tidurnya yang bisa menjadikan kita bahagia, tetapi nikmat tidur nyenyak-lah yang mesti kita syukuri. Aku membayangkan, apakah saudara-saudara kita di sana masih bisa tidur nyenyak di saat ancamana bencana masih membelenggu mereka? Apakah mereka bisa merasakan kenikmatan itu di saat mereka harus kehilangan rumah, harta benda, bahkan sanak saudara?
Mungkin tidak…tidak lagi kawan..
Lantas, pernahkah kita merenung? Pernahkah kita bersyukur karena Tuhan masih memberikan nikmat itu kepada kita? Sedangkan Tuhan telah mencabut nikmat itu untuk mereka?
Bukan tidak mungkin kawan, bahwa Tuhan akan mencabut nikmat itu dari kita. Sedetik, semenit, sejam, sehari, sebulan, atau setahun berikutnya.
Maka, tidak pantaslah kita lupa dan menjadi hamba yang sombong, sehingga mengabaikan semua nikmat itu !!!!


Makassar,
19 November 2010

(baru sempat diposting)..:)

Kamis, 25 November 2010

"MOTIVASI"

-->

Jika engkau ditugaskan untuk menjadi Raja atau Ratu,
ENGKAU AKAN MENJADI RAJA ATAU RATU.

Tidak ada apa dan siapa pun yang bisa membatalkan rencana kebesaranmu, KECUALI jika engkau MENOLAK RENCANA TUHAN,
...dengan MENJADIKAN dirimu malas, pesimis, penyedih, dan berbahasa sembarangan.
ENGKAU PEMBESAR MASA DEPAN, BERSIKAP DAN BERLAKULAH YANG SESUAI.

Aku menghormatimu mulai dari apa adanya engkau sekarang...
 

 

Mario Teguh

Selasa, 23 November 2010

PRESIDEN

Presiden..mungkin itulah kata yang saat ini sedang terbersit di dalam otak saya. bukan sebuah cita-cita, ataupun salah satu dari puluhan mimpi-mimpi yang ingin saya raih. Tepatnya, kata itu hanya menjadi sebuah angan-angan yang sudah menyelinap dalam benak saya beberapa tahun yang lalu. Tidak begitu lama, tapi cukup lama mengisi kepala saya dan membuat saya sering memikirkannya. Angan-angan, bagi saya bukanlah sebuah ambisi. Tercapai atau tidaknya bukanlah hal yang penting, sebab ini hanya bagian kecil dari banyak hal yang menghiasi mimpi saya. Bagi saya, mimpi adalah keinginan. Sesuatu yang mesti diwujudkan. Berhasil atau tidaknya adalah hasil dari sebuah proses yang setidaknya telah membuat saya menjadi sosok yang mau berusaha dan berjuang untuk memperolehnya. Sedangkan angan-angan bagi saya hanya bagian dari mimpi itu, dan bukan perwujudan dari mimpi itu. Mungkin terdengar aneh dan sangat membingungkan, dan saya pun sebenarnya tidak mengerti dengan semua itu.
Presiden, sejatinya adalah seorang pemimpin. Pemimpin hakekatnya adalah seorang pejuang. Berkorban dengan kebijaksanaan, berkorban dengan mengabaikan perasaan tapi bukan berarti tak berperasaan. Pemimpin sering kali dihadapkan pada berbagai pilihan sulit, sering dikacaukan dengan banyak hambatan, dan sering dihantui justru dengan kekuasaannya sendiri. Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, apalagi menjadi pemimpin negara. Sebab, memimpin orang lain berarti mampu mengarahkan mereka menjadi lebih baik. Berusaha melakukan yang terbaik untuk kepentingan orang lain dengan mengabaikan kepentingan pribadi. Presiden adalah bagian dari wajah pemimpin. Jabatan dan kekuasaan yang menjadi rebutan banyak orang, yang kadang kala menyakiti mereka sendiri. Menjadi presiden merupakan sebuah konsekuensi besar bagi ia atau mereka yang memperoleh kehormatan tersebut. Seorang presiden tidak hanya harus siap untuk diagung-agungkan, tetapi juga harus siap untuk ditentang dan dicaci. Maka ia atau mereka yang beruntung adalah bagian dari sejarah yang namanya akan tercatat dan dikenang hingga keberadaan negeri ini hilang.

Pangkep, 23 Januari 2010
dina

S.A.M.A

-->
Aku terbangun
Masih sama dengan hari kemarin
Tak ada yang berbeda
Orang-orang yang itu-itu lagi
Sama seperti hari-hari kemarin
Kemarin dulu, kemarinnya kemarin dulu
Kemarin kemarinnya kemarin, kemarin-kemarin yang lalu
                                   Besoknya, dengan matahari yang saama
                                   Aku kembali terbangun
                                   Masih seperti yang kemarinnya kemarin
                                   Suasana yang sama, dengan pemuda-pemuda yang sama
                                   Kakek tua, ibu-ibu, dan anak-anak yang tetap sama
Jalannya masih sama, rumahnya pun sama
Sikap yang sama, dengan sandiwara yang sama
Mereka sibuk berkocah-kacih
Beradu mulut, bahkan saling melempar batu
Suaranya masih seperti itu
Tak pernah lelah untuk mengulang yang itu-itu saja
                                   Besoknya besok,
                                   Hari ini, aku terbangun lagi
                                   Dengan mimpi bahwa hari ini takkan sama dengan yang kemarin
                                   Orang-orang baru, dengan suasana baru
                                   Bukan lagi anak muda yang sok tahu
                                   Atau kakek-kakek yang merasa lebih hebat
                                   Namun nihil
                                   Mimpi tetaplah mimpi
                                   Sama dengan yang lain, akan tetap begitu dan seperti itu...

4/7/2008
00:50:08

BUKAN

-->
Bukan tuk kudekap.
Bayang-bayangmu yang maya telah merembes di titik sukmaku.
Namun bingkai ruhmu hanya hiasan yang tergeletak.
Bukan tuk kudekap.
Sampan Tuhan tlah meraihku.
Maka kulepaskan rasa tak bernama ini di jantungmu.
Hingga detik yang lalu ku kan lupa, bahwa kau pernah menjadi sajak di hatiku.

Senin, 22 November 2010

I’m CARE...what ’bout YOU????

         Berbagai bencana yang terjadi di negeri kita, tanah pertiwi tercinta, tentu saja telah mengiris hati, mengusik jiwa dan bahkan mengurai air mata kita. Dimana kepedulian kita terhadap lingkungan dan alam yang menjadi tempat berteduh kita? Kekayaan yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma, namun kita gunakan seenaknya. Apakah sesuatu yang gratis harus kita sia-siakan? Tidakkah kita bisa berpikir dan bertindak lebih bijak dengan akal yang telah kita miliki. 
         Marilah memulai dari diri sendiri dan dari hal yang paling kecil (kata AA Gym). Misalnya, tidak membuang sampah di sembarangan tempat atau menghemat pemakaian air dan listrik. Hal yang sangat sederhana, tetapi akan berdampak besar bagi kehidupan kita bersama.
Selain itu, berhentilah sibuk menyalahkan orang lain. Saatnya kita peduli, saatnya kita berpikir, dan saatnya untuk bertindak.


Just info !!!

1.Memakai 1 bungkus tissue berarti menebang 1 pohon. Sedangkan pohon yang dapat menyerap CO2, apabila pohon selalu ditebang maka itulah yang menjadi penyebab global warming.

2.70% pencemaran udara disebabkan oleh kendaraan bermotor. 

3.Mengurangi penggunaan kertas, karena kertas dibuat dari pohon.

4.Kurangi plastik, soalnya plastik tdk bisa didaur ulang.

5.Jangan sering pakai parfum. Soalnya parfum mengandung CFC(Cloroflorocarbon) yang dapat merusak ozon.
Assalamu alaikum…

Hmm…hari ini aku bertemu seorang nenek di kampus..Mungkin usianya sekitar 70 tahun..
Tubuhnya kurus dan badannya agak bungkuk..ia membawa sebuah karung besar yang berisi sampah2 plastik..aku melihatnya sedang memunguti beberapa botol plastic bekas yang tergeletak di jalanan, di sekitar koridor kampus..ia dengan sabar mengambil sampah2 itu dan memasukannya ke dalam karung.
Beberapa saat kemudian, aku melihat nenek itu menghampiri sebuah tempat sampah. Ia kemudian mulai mengais, mengambil sampah2 plastik yang ada di dalamnya.
Aku menatapnya dengan iba..”Sungguh kasihan nenek ini,”batinku.
Yah, bagaimana tidak..orang seusia dia harus bekerja sekeras itu, padahal ia sudah sangat renta. Seharusnya, nenek itu sedang asyik menikmati masa-masa tuanya di rumah, bersama anak dan cucunya. Menikmati hari-hari di usia senjanya, dan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang menyenangkan.
Tapi nenek itu, sungguh memilukan. Aku sangat kasihan melihanya. Ia harus membanting tulang untuk menghidupi dirinya dan mungkin juga keluarganya. Sungguh ironis..
Aku kembali menunduk. Sejenak merenung, mengingat kakek dan nenekku di rumah. Yah, mungkin mereka lebih beruntung dari pada nenek itu. Sekali lagi, aku bersyukur pada Tuhan, yang selalu mencukupkan rezeki-Nya kepada keluargaku.
The last, aku berharap agar aku dan kita semua bisa menjadi hamba yang senantiasa bersyukur atas segala kemurahan hati Tuhan...amin..^^

Kamis, 04 November 2010

Hanya Renungan

Kawan, pernahkah kau merasa BERBEDA? Pernahkah kau merasa iri melihat kehidupan dan kebahagiaan orang lain? Atau pernahkah terlintas sejenak dalam benakmu untuk menjadi seperti mereka? Kalau jawabannya TIDAK berbanggalah dan kalau IA maka bersyukurlah.
HIDUP, kadang kala tidak memberikan kita pilihan untuk terlahir atau tercipta seperti apa yang kita inginkan. Sebab bila iya, maka semua orang akan menuntut kehidupan yang sempurna dan bahagia. Maka apa indahnya jika semua manusia di dunia ini terlahir sama? Maka dimana wujud keadilan Tuhan ketika semuanya tak memiliki perbedaan? Bukankah dengan terlahir berbeda kita bisa merasakan keindahan itu? Bukankah dengan ketidaksamaan itu kita dapat melihat keadilan ?
Wajar, ketika ada kalanya kita merasa iri dengan orang lain. Yah, karena pada hakekatnya kita adalah ‘manusia’. Kita hidup, dan kita bisa merasakan Hidup itu. Hanya saja, kita tidak boleh menjadikan hal itu sebagai pembenaran atas tindakan kita yang tidak baik. Setiap orang mungkin saja memiliki kelebihan yang tidak kita miliki, tapi boleh jadi mereka pun tidak memiliki kelebihan yang kita miliki. Ada kalanya kita kurang, dan ada kalanya mereka lebih. Begitupun sebaliknya. TAK ADA YANG SEMPURNA. Jadi, untuk apa kita menuntut kesempurnaan yg sudah jelas hal itu hanya milik sah TUHAN.
Ada kalanya, kita merasa orang lain selalu bahagia. Sedang kita tak hentinya dirundung masalah. Kita berpikir bahwa mereka bisa dengan mudah mendapatkan segalanya. Sedang kita, meski telah bersusah payah tetap saja tak mampu. Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa lebih banyak hal yang mesti kita syukuri daripada kita ratapi dengan rasa sedih dan kecewa.
Kita terlalu sering melihat ke atas, hingga seringkali lupa bahwa masih banyak orang di bawah. Kita terlena pada kebahagiaan orang lain, sehingga kita lupa kebahagiaan diri kita sendiri. BAHAGIA ada di dalam hati, bukan pada apa yang kita punya dan miliki dalam gengaman. Bukan pada apa yang kita jamah atau yang kita lihat, tetapi bagaimana kita merasakan dan mesyukuri segala nikmat YANG KUASA sebagai anugerah yang pantas kita syukuri.

Minggu, 04 April 2010

My new L.I.F.E

Menapaki kampus merah Universitas Hasanuddin, ada sesuatu yang justru terasa asing bagi saya. Bukan karena saya belum pernah memasuki kampus ini sebelumnya, tapi justru karena sekarang saya telah menjadi bagian dari keluarga besar ini. Tak ada lagi seragam putih abu-abu yang biasa saya jumpai, teman-teman semasa SMA yang sudah bagaikan saudara, dan guru-guru yang telah akrab dalam pandangan saya. Suasananya begitu berbeda dan semuanya terasa lain. Kini, saya berada di antara ribuan orang yang tidak saya kenal. Saya bertemu dengan wajah-wajah baru hampir setiap hari dengan gaya dan penampilan yang tentu saja berbeda. Sesuatu yang tidak pernah saya temui sebelumnya di bangku SMA. Saya mulai melangkah, melewati koridor demi koridor tempat ini dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepala. Inikah dunia kampus? Inikah orang-orang di dalamnya? Beginikah rasanya menjadi mahasiswa? Dan sebuah pertanyaan besar dalam hati saya. Siapkah saya menjadi seoarang mahasiswa?
Awalnya saya merasa sangat canggung, namun lama kelamaan saya bisa menetralisir semua perasaan itu. Ya, sekarang saya telah berada di dunia yang berbeda. Saya bukan lagi seorang siswa, kini saya adalah seorang mahasiswa. Sebuah peningkatan level yang harus disikapi dengan penuh rasa tanggung jawab.
            Mahasiswa, sebuah gelar baru yang kini saya sandang. Sebuah tahapan yang mesti saya lalui sebagai proses akademis untuk meraih apa yang saya cita-citakan. Ibaratnya sebuah tangga, kita harus melalui tiap-tiap anak tangga itu untuk dapat mencapai puncaknya. Begitupun dengan apa yang saya alami. Setelah menyelesaikan tahun terakhir di SMA, saya mendaftarkan diri di berbagai perguruan tinggi, baik itu negeri maupun swasta. Hingga pada  akhirnya setelah melalui proses panjang yang melelahkan, saya dapat menjadi salah satu mahasiswa Jurusan Fisioterapi Universitas Hasanuddin. Sebuah hal besar yang mesti dan wajib saya syukuri, sebab tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Beribu-ribu orang bertarung di berbagai tes  masuk penerimaan mahasiswa baru yang diadakan oleh setiap perguruan tinggi di Indonesia, namun tidak semuanya bisa merasakan keberhasilan yang sama untuk dapat duduk di bangku perguruan tinggi dan bahkan merasakan indahnya menjadi seorang mahasiswa.
            Menjadi salah seorang mahasiswa fisioterapi sebenarnya bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya. Banyak hal yang sering membuat saya ragu dan kadang kala hal itu mampu mematahkan semangat yang selama sudah ini saya bangun. Namun, saya selalu berusaha memantapkan diri dan meyakinkan hati saya bahwa fisioterapi adalah pilihan yang terbaik untuk mengantarkan saya meraih sebuah impian di masa depan. Sebuah harapan untuk dapat membahagiakan kedua orangtua saya.
            Setelah melalui proses PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) dan BSS (Basic Study Skill), baik itu tingkat universitas maupun tingkat fakultas, akhirnya tibalah saya pada sebuah dunia baru, kehidupan baru dengan keluarga yang tentu saja baru. Saya mulai merasakan kebahagiaan tersendiri bisa berada di antara kaum-kaum intelek yang sangat haus akan ilmu pengetahuan. Saat itulah semangat saya bangkit untuk menatap masa depan yang lebih baik. Meskipun lahir di Pangkep, berdarah asli Pangkep, dan memiliki orangtua yang berasal dari Pangkep, sebuah daerah kecil di pelosok Indonesia Timur, namun semangat dan tekad saya untuk berprestasi tidak kalah besarnya dengan anak-anak lainnya yang mungkin lahir dan tumbuh di daerah perkotaan dengan segudang fasilitas lengkap dan mewah. Saya percaya bahwa ketika orang lain bisa, maka saya pun pasti bisa.  
    Menjalani kuliah pertama di Fakultas Kedokteran adalah hal yang cukup berat bagi saya pribadi. Saya harus berjumpa dan berinteraksi dengan orang-orang baru, bukan lagi orang yang biasa saya temui di bangku SMA. Sebenarnya ini mungkin bukanlah hal yang sulit bagi sebagian orang, namun berbeda halnya dengan saya. Saya menyadari bahwa saya bukanlah tipe orang yang gampang bergaul atau istilahnya supel. Kadang kala saya sangat kesulitan untuk berbicara atau sekedar bertegur sapa dengan orang yang baru saya kenal. Namun seiring berjalannya waktu, saya dapat mengatasi semua ini.
   Hari-hari pun berlalu, kehidupan dunia kampus yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya di kepala saya akhirnya tergambar sudah. Kini saya mulai memahami sedikit demi sedikit hal-hal yang terjadi di dalamnya, saya mulai belajar banyak hal hingga saya mencapai sebuah kesimpulan bahwa menjadi seorang mahasiswa adalah sesuatu yang tidaklah mudah namun sungguh menyenangkan. Walaupun terbilang baru, saya menyadari bahwa setiap peristiwa yang telah saya alami dan saya lalui adalah sebuah bagian dari proses pendewasaan diri yang akan membimbing saya menjalani hari-hari penuh cerita di kampus ini. Saya berusaha mengubah pola pikir saya, mencoba melihat segala hal dari sudut pandang yang berbeda. Menyadari bahwa menjadi mahasiswa berarti siap untuk berpikir terbuka, kritis, dan dewasa. Saya bukan lagi anak SMA yang mengenakan seragam putih abu-abu, kini saya adalah seorang mahasiswa yang dituntut untuk membawa perubahan, baik bagi diri saya pribadi maupun untuk bangsa dan negara tercinta.
           

Kisah seorang ayah dan putrinya

Kisah ini terjadi disuatu pagi yang cerah, yaa.. mungkin tidak begitu cerah untuk seorang ayah yang kebetulan memeriksa kamar putri nya...

Dia mendapati kamar itu sudah rapi, dengan selembar amplop bertuliskan untuk ayah diatas kasurnya.. perlahan dia mulai membuka surat itu...


--
Ayah tercinta,

Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal.
Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah.
Aku pergi bersama kekasihku, dia cowok yang baik, setelah bertemu dia.. Ayah juga pasti akan setuju meski dengan tatto2 dan piercing yang melekat ditubuhnya, juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya.

Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua (aku pikir jaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua).
Dia sangat baik terhadapku...
lebih lagi dia ayah dari anak di kandunganku saat ini.
Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan membesarkannya bersama.

Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan extacy yang sangat luas
Dia juga telah meyakinkanku bahwa marijuana itu tidak begitu buruk.
Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami.

Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh.

Aku tahu dia juga punya cewek lain tapi aku percaya dia akan setia padaku dengan cara yang berbeda.

Ayah.. jangan khawatirkan keadaanku.
Aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku.
Salam sayang untuk kalian semua.

Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.

----

Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, sang ayah membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu...


PS: Ayah, .. tidak ada satupun dari yang aku tulis diatas itu benar
Aku hanya ingin menunjukkan ada ribuan hal yg lebih mengerikan daripada nilai Raporku yg buruk.
Kalau ayah sudah menandatangani rapotku diatas meja,
panggil aku ya...Aku tidak kemana2 saat ini aku ada di....


tetangga sebelah.


NB: tulisan ini saya ambil dari facebook teman..

Jumat, 02 April 2010

PUTIH ABU-ABU

and the story begin...




















               putih abu-abu, it's not just colours






there are moment


















                                                                 and we're laughing...


















then...we're go...


















but the story, always in our hearts...;)











_forever_

Selasa, 30 Maret 2010

HUJAN

Hujan…Mungkin aku tidak terlalu suka dengan kondisi itu..Yah, seperti saat ini..hujan telah mengurungku di kampus, menahan kepulanganku setelah bergelut selama seharian dengan pelajaran-pelajaran yang cukup menguras energi..
Sebenarnya, aku bukannya tidak suka dengan hujan…Aku hanya sedikit takut dengan tumpahan air langit itu. Aku takut mendengar suaranya yang begitu keras saat terpelanting di atas atap-atap rumah atau bangunan yang terbuat dari seng. Entah mengapa, suaranya terdengar begitu mengerikan di telingaku. Di tambah lagi suara kilat atau guntur yang biasanya terdengar saat hujan turun. Suaranya yg cempreng  tidak kalah keras menggelegar di angkasa. .Mengaung-aung, seolah berontak pada langit.  
Saat hujan turun, kadang kala aku mengingat mama di seberang sana. Atau suasana rumah tatkala hujan menari dengan lembut sebelum jatuh ke bumi. Biasanya, mama akan membuatkan kami gorengan pisang yang disuguhkan bersama teh panas seduhan mama. Sungguh aku merindukan suasana itu, suasana di mana aku bisa berkumpul dengan mama, papa, kakak, dan adikku. Aku sangat merindukan kebersamaan itu. Saat-saat dimana aku harus berebutan pisang dengan adik atau kakakku, bahkan juga ayahku. Saat-saat bertengkar dengan saudaraku karena hanya memperebutkan sepotong pisang terakhir yang menghiasai piring kami. Mmm, keluarga yang ANEH..hehehe..;)
Berbicara tentang hujan, mungkin akan mengingatkan kita pada sebuah lagu yang dibawakan oleh grup band utopia yang isinya kurang lebih menceritakan tentang HUJAN. Yah, tapi sebenarnya saya bukan mau membahas tentang ini, sekedar intermezzo saja.
Mmm, kembali ke masalah pokok..'HUJAN'...
Banyak hal tentang hujan yang tidak bisa saya jelaskan. Keindahannya saat turun, kehangatan yang ia ciptakan justru saat ia membawa udara dingin, kekuatannya yang mampu menumbangkan pohon-pohon besar, manfaatnya yang tiada tara seperti yang tercantum di dalam Al-Qur’an, ataupun hal lain tentangnya yang tidak mampu saya paparkan satu per satu.
Begitulah hujan..Kedatangannya sering tidak diharapkan, namun kepergianya justru sering kali membawa kenangan..hiks..hiks..;)


LETTER FOR MOM




Mama, malam ini kuterbangun lagi. Lewat dingin angin malam yang meradang, lewat pekatnya hitam malam. Mama, tahukah engkau? Seperti malam-malam kemarin, aku teringat peristiwa yang lalu. Hari di mana sesuatu yg tak pernah terbayangkan terjadi. Saat aku pun tak sadar, bahwa Tuhan sedang menguji kita. Bukan karena aku tak mampu menerima, juga bukan karena aku tak bisa merelakannya, tapi karena aku ataupun yg lain tak bisa menolaknya. Ini bukan tentang ikhlas ataupun tidak, sebab aku seperti yg lain. Aku hanyalah manusia biasa.

Tahukah kau mama, hari itu adalah saat-saat yang paling gusar dalam hidupku. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Aku tak percaya dengan semuanya. Semua yg menimpa mama. Kabar buruk yang kudengar tentang mama di hari itu. Kabar yang tidak pernah ingin kudengar sedikit pun. Namun di saat itu, mama tetap meneleponku, berusaha menguatkan hatiku. Aku tahu, mama sedang menahan perih. Tapi mama masih berbohong, berkata seolah tak terjadi apa-apa. Mama, tidak sadarkah kau bahwa hatiku sangat sedih mendengar semua itu. Sakit ma, sakit sekali. Bukan karena aku tidak mengharapkan mama akan baik-baik saja di sana, tapi karena aku tahu bahwa mama masih saja memikirkanku bahkan di saat kondisi mama sedang memburuk. Ingin rasanya aku segera kembali ke rumah, aku ingin segera pulang dan berada di samping mama saat itu. Aku ingin segera memeluk mama, menatap wajah mama, melihat mama yang seperti biasa akan menyambut kedatanganku di depan pintu. Pun seandainya aku bisa melawan ruang dan waktu, tentu saja akan kukerahkan sekuat tenaga untuk dapat bertemu denganmu kala itu.

Mama, waktu demi waktu berlalu. Kedewasaan memberiku sedikit ruang untuk memahami segalanya. Aku mulai menerima semua yg terjadi dan kuharap demikian pula bagi mama. Tuhan bukan tak sayang kepada kita, namun Tuhan terlampau menyayangi kita. Tak ada alasan yg mampu membuat kita berhenti bersyukur akan kuasa-Nya .

Mama, mungkin aku bukanlah anak yg berbakti. Sering kuucapkan caci maki ataupun bentakan-bentakan kasar yang sebenarnya tak pantas kulakukan. Tapi di balik itu semua, aku selalu menyayangi mama. Kata yang tak pernah kuuangkapkan, rasa yang selalu kupendam, dan cinta yang tak mampu kuutarakan. Mama, aku yakin engkau adalah sosok yang kuat. Dirimu adalah semangatku, senyummu adalah kekuatanku, dan doamu adalah pelindungku. Maka, aku pun meminta kepada Tuhan agar sedianya Dia menjagamu. Agar Tuhan selalu memberimu kekuatan untuk bertahan, tidak menyerah, dan putus asa pada takdir dan keadaan. 


Aku percaya mama, sebuah ayat yang selalu menguatkan hatiku ketika membaca kitabullah..”Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Dan aku yakin, bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya…

Untuk mama yang selalu kusayang, kukirimkan surat cinta ini, sebagai tanda bahwa aku bagga memilikimu di dalam hidupku..


Salam cinta
Anakmu..;)

Senin, 29 Maret 2010

S.M.U.D.A.M.A in M.E.M.O.R.Y



Skenario pun dimulai, di tempat sederhana, namun penuh makna. SMUDAMA, kampus adat tanpa madat. Tempat petualang penuh misteri, membentangkan tradisi dalam kenaifan yang memudar. Memberi harga akan tiap tapak. SMUDAMA, it's not just a story. Berjuta cerita, beragam makna, memadu dalam bahagia. Tak terangkum dalam setumpuk buku, sekeping CD, atau sebuah album mini besampul hati.
SMUDAMA, is not only about 'tekkel' or 'calla'. Belajar untuk ikhlas dan berbagi untuk orang lain. Merelakan, bukan sakit hati.
SMUDAMA, never ending story. Saat-saat ceria dalam kebersamaan, tangis bersama, duka bersama, dan untuk sakit yang menjadi derita bersama. Mengajarkan tentang makna kebersamaan, dalam suka maupun duka. Di sana tumbuh cinta, kisah romansa anak muda. Di sana tercipta kasih, persahabatan yang tak terlupakan. Merangkai cerita panjang tak terselesaikan.
SMUDAMA 100% jenius. Tempat kita menggantungkan harapan masa muda. Mengukir mimpi-mimpi kita tuk seberkas cahaya terang. Menemukan makna kegagalan untuk menapaki gerbang kesuksesan. Tak peduli dengan segala hambatan, sebab luka dan sakit itu telah kita rasakan. Rendah hati, bukan sombong. Pantang menoleh kebelakang, sebab masa lalu adalah kenangan dan masa depan adalah harapan.
SMUDAMA, simple is cool simple is fun. hidup bersahaja dalam kesederhanaan. Menyelami pagelaran kehidupan yang sesungguhnya. Dalam tarian dan nyanyian bahagia.
SMUDAMA, fly to the sky together. Sang kepompong telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. Siap tuk mengepakkan sayapnya, menuju angkasa yang luas. Kecil,mungil, dan penuh pesona. Berani menatap mentari dan siap menantang dunia.
SMUDAMA, do re mi fa sol la si do. Kami bangga, tlah menjadi bagian dari harmoni nada cinta dalam larik kisah klasik ini.  

SMUDAMAku, SMUDAMAmu, SMUDAMAta' tonji.....

Kamis, 25 Maret 2010

Jilbaber

Sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholeha....

RUMAH KEDUA


Saya terdiam, menatap ke sekeliling sudut tempat saya berada. Menyadari bahwa kini saya telah jauh dari sebuah tempat yang saya namakan sebagai “rumah kedua”. Sebuah tempat yang sekiranya telah melambuhkan saya pada sebuah kedewasaan, kemandirian, dan tentu saja tanggungjawab. Sebuah tempat yang mengenalkan saya pada berbagai macam warna, rupa, karakter, ataupun bahasa. Membuat saya mengerti akan berharganya setiap waktu yang saya punya, hingga saya lupa bahwa 3 tahun adalah waktu yang terlampau singkat. Di tempat itu, sebuah tempat yang saya istilahkan sebagai rumah kedua yang apik, lengkap dengan segala fasilitas alam yang menyenangkan. Rumah yang pintunya selalu terbuka, menyamakan setiap perbedaan tanpa menghilangkan perbedaan itu sendiri. Seperti ketika ia membuka pintunya untuk kami, 91 orang terpilih. Entahlah, mungkin karena kebetulan semata, jodoh, takdir, ataupun sejenisnya, saya pun tak tahu. Di kediaman itulah, saya belajar menerima berbagai macam hal, bahkan hal yang tak bisa saya terima sekalipun. Saya mengenal teman-teman baru, sebuah kelurga besar yang mengagumkan. Seperti rumah pada umumnya, di dalamnya ada ayah, ibu, tante, nenek, anak, cucu, dll. Mungkin terdengar lucu, seolah membuat fantasi dalam suatu kehidupan lain. Namun itulah yang akan terkenang bahkan ketika kita betul-betul akan mengalami kehidupan nyata yang sesungguhnya. Seperti kata orang bijak “hidup itu bagaikan roda yang selalu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah”. Begitupun dengan kehidupan yang kita rancang. Pada saatnya, ketika suatu masa, ia pun akan berakhir. Mengenang semua hal yang ada ataupun terjadi di tempat itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya, khususnya teman-teman yang selalu setia menemani saya selama kurang lebih 3 tahun. Mengenal kalian adalah sebuah keajaiban, sebuah misteri yang terlampau indah dipecahkan. Walaupun kita telah dipisahkan oleh ruang dan waktu, ingatlah bahwa kita pernah hidup dalam sebuah dinding yang sama. Bahkan saat kalian ataupun saya sadar bahwa kini kita tak lagi bersama dalam sebuah tempat yang saya sebut sebagai “rumah kedua”.